April 05, 2011
Mio Thailand Tembus 6,8 Detik
Mio Thailand Tembus 6,8 Detik !!!!!
Misalnya, seperti piston. Karena adanya kebebasan isi silinder hingga 350 cc, maka seher diamater 70 mm dipasang ke linner. “Lebih suka pakai piston ini. Karena untuk power lebih bagus dan bisa pakai klep besar,” bilang Witthaya Chamnanwat, mekanik tim Dangmahachai asal Thailand ini.
Pilihan bahan klep juga enggak sembarang. Witthaya Chamnanwat memilih klep material titanium. Tapi sayang, doi enggak sebutkann apa mereknya.
Hal yang sama juga terjadi di kem! Mungkin takut dicontek atawa ditiru, doi ogah bilang soal bukatutup durasi noken as. “Pokoknya lift klep dibikin jadi 8 mm,” bilangnya.
Lewat pemakaian bore yang membengkak, stroke juga ikut dipanjangkan. Doi menggeser pen kruk as sejauh 13 mm. Itu artinya, naik-turun jadi 26 mm. So, total stroke jadi 83,4 mm.
Dibulatkan, 84 mm. Kapasitas silinder sekarang jadi 323 cc. Buat setang piston, dia andalkan merek TDR yang panjangnya 120 mm. Oh iya! Blok silinder usung yang punya bahan campuran keramik. (motorplus-online.com)
Sayang, Witthaya Chamnanwat enggak terlalu mau buka-bukaan banyak soal racikan mesin. Cuma seperlunya doang.
Maklum, karena tidak sedikit pedagang dari Indonesia yang suka beli mesin drag di Thailand. Makanya, dia baru mau cerita keseluruhan jika mesin ini dibeli. Walahhh, pedagang?
Begitunya ada sedikit lagi part yang mau diceritakan. Misalnya, dari CDI. Cukup ndalkan otak pengapian merek AP Itac. Lalu part pengabut bahan bakar dan udara, doi pakai Keihin PWK yang dibuat jadi 34 mm.
Paling terlihat, saluran buang. Pacuan yang sudah punya isi silinder 323 cc ini mengaplikasi leher knalpot diameter besar. Yaitu, 32 mm. So, sisa gas buang yang dihasilkan lancar.
Soal daya tahan engine, bisa dibilang kuat. Karena mesin dipacu tak hanya satu atau dua kali saja. Dengan perbedaan sistem balap seperti di Indonesia, engine bisa dipacu hingga lebih dari lima kali dalam satu kali event lho.
DATA MODIFIKASI
Ban depan : Vee Rubber 60/80-17
Ban belakang : Vee Rubber 45/90-17
Sok belakang : YSS
Kaliper rem : Brembo
Sasis : Aluminium
Honda BeAt 2010, Kampiun Kelas 130cc Patok Kompresi 12,7 : 1
Di Sirkuit Tugu lalu, diseting kompresi 12,7 : 1. Ini kompresi maksimal atau paling tinggi karena terbatas penggunaan bahan bakar. “Wajib bahan bakar SPBU lokal. Maksimal Pertamax Plus,” jelas Alvin, mekanik yang mengorek.
Kompresi tercipta dari ubahan di sektor mesin. Pakai piston Izumi tipe high dome diameter 54,4. Namun sisi samping piston dibuat mendem 1 mm. Supaya punya endurance tinggi karena harus menempuh 15 lap setiap race-nya.
Begitupun sektor kepala silinder. Alasan serupa Alvin hanya memapas head sekitar 0,5 mm. Sebab, kalau lebih kompresi juga akan naik lagi.
Namun pada seri final (11-12/12) di Sirkuit Jl. Pahlawan, Tabanan, Bali, BeAT kelir biru ini hanya podium 3. Karena hanya ada Pertamax. Gak ada Pertamax Plus.
Kembali soal kapasitas silinder. “Kini dengan diameter piston 54,4 mm, volume silinder sekarang bengkak jadi 127,3 cc,” jelas Alvin yang aslinya punya bengkel di di Jl. Raya Jombang, Perigi Lama, Bintaro, Tangerang Selatan.
“Bicara seting mengacu pada regulasi yang sudah ditetapkan. Tahu sendiri, kelas 130 cc standar enggak banyak ubahan. Jadi, cuma kemampuan meracik mesin kuncinya,” ungkap Alvin yang aslinya mekanik S2M Kaka Putera Perdana.
Klep isap (in) durasinya sekitar 271 derajat. Sedangkan untuk klep buang (ex) durasinya 272 derajat. Hitungan ini agar nafas BeAT tetap ada demi mengejar peak power putaran atas.
Bermain kelas standar, karburator kudu tetap pakai standar. Yang boleh cuma kilik aliran debit gas bakar lewat spuyer. Coba bermain aman dengan setingan basah. Pilot-jet dipatok pada angka 42 sedangkan main-jet masih tetap mengandalkan spuyer standar yaitu 100.
Sip. (motorplus-online.com)
PAKAI ROLLER 8 GRAM RATA
Beralih ke seting seputar CVT. Lagi-lagi, tidak banyak ubahan yang dilakukan. Penggantian hanya sebatas roller. Dari setingan yang dilakukan di sirkuit ini, pria berumur 31 tahun ini mengaku menggunakan ukuran 8 gram rata.
“Awalnya pakai yang 7 gram. Tapi, lihat lay-out sirkuit Tugu karakter high speed di trek lurus dikombinasi tikungan patah yang mengharuskan bermanuver lebih pelan. Pilihan yang tepat adalah roller Kawahara 8 gram rata,” imbuh pria asli Betawi ini.
Katanya putaran atas tidak terlalu dipikirkan. Yang penting, putaran bawah meluncur lebih cepat. Sehingga, mudah melesat keluar tikungan! Gasssss!
DATA MODIFIKASI
Ban depan : Indotire 80/90-14
Ban belakang : Indotire 90/90-14
Knalpot : Standar bobokan
Sok belakang : YSS
Pelumas : Federal Oil
Yuks, Intip Isi Kepala Silinder Honda CBR250R
Isi Kepala Silinder Honda CBR250R
Pertama, buka dulu cover silinder head Honda CBR250R. Setelah tutup bagian atas ini terbuka, semua komponennya akan langsung terlihat jelas. Posisi camshaft dan rocker arm serta batang atas klep dan per klep akan langsung tampak.
Nah, yang mengagetkan adalah bentuk camshaft-nya tidak seperti camshaft mesin DOHC pada umumnya. Di Suzuki Satria 150FU misalnya, terdapat dua camshaft, tiap camshaft memiliki dua lobe atau bumbungan. Dua lobe di camshaft saluran isap akan langsung menggerakan dua klep masuk, begitu juga dengan dua lobe di saluran buang akan menggerakan dua klep buang.
Tapi pada Honda CBR250R, tiap camshaft hanya memiliki satu lobe. Satu lobe ini kemudian menggerakan dua klep sekaligus. Bagaimana cara satu lobe camshaft dan dua klep terhubung? Ya, dengan bantuan rocker arm tadi.
Ada beberapa alasan kenapa Honda memilih menggunakan desain yang baru pertama kali diaplikasikan pada sepeda motor ini. "Yang pertama terkait dengan efisiensi ruang pembakaran dengan mengurangi bobot dan gesekan," jelas Endro Sutarno, Technical Service Training Instructor, PT Astra Honda Motor (AHM).
Dengan satu lobe, gesekan pada camshaft akan berkurang. Tapi kan ada rocker arm, apakah tidak malah menambah gesekan? Tenang, rocker arm sudah dilengkapi dengan roller, yang artinya gesekan antara lobe camshaft dan rocker arm bisa dikurangi.
Yang paling penting adalah tekanan yang dibebankan camshaft untuk menekan per klep jadi jauh berkurang. Rocker arm disini diibaratkan sebuah pengungkit, bila menganggat beban dengan pengungkit pasti lebih ringan!
Jadi jangan heran bila Honda tetap pede hanya menggunakan satu lobe pada camshaft untuk menekan dua klep beserta per-nya. Dengan rocker arm, mesin tetap berkitir lebih ringan dengan gesekan yang jauh lebih sedikit.
Honda juga bersikukuh menggunakan konstruksi DOHC ber-rocker arm karena terkait dengan sudut klep, bentuk port atau salurang masuk dan buang, serta bentuk combustion chamber atau ruang pembakaran. Honda menyebut saluran porting Honda CBR250R dengan istilah cross-sectional.
Satu lagi, konstruksi ini juga memudahkan perawatan. "Dengan desain kepala silinder seperti ini, untuk melepas atau mengganti shim tidak perlu lagi melepas camshaft," jelas Endro. Untuk tips yang satu ini, Motorplus-online akan membahasnya sendiri, sabar ya.
Mantab kan! (motorplus-online.com)
Desember 24, 2010
Tiga Langkah Terapkan Stroke-Up !!!!
OTOMOTIFNET - Untuk mendapatkan kapasitas silinder yang lebih besar lagi, biasanya selain mengaplikasi piston berdiameter gede, ditambah dengan memanjangkan langkah pistonnya. Makanya gak heran kalau dengar ada motor yang kapasitas mesinnya bisa 3 kali lipat lebih besar dari kapasitas standar.
Paling sering ditemui pembesaran kapasitas segede itu di Yamaha Mio. Skutik berlambang Garputala ini kapasitas mesin standarnya kan cuma 115 cc. Tapi bisa dibig-bore hingga 300 cc, bahkan sampai 350 cc. Weleh..weleh..!
Nah, guna mendapatkan kapasitas mesin sebesar itu tentu tak cukup hanya mengganti piston berdiameter gede. “Stroke-nya juga mesti naik banyak,” bilang Jessi Ligasiswanto, bos speed shop JP Racing yang beralamat di Jln. Cendrawasih No.6 E-F, Sawah Lama, Ciputat, Tangerang.
Pemanjangan langkah piston tersebut bisa dilakukan pakai 3 cara. Yakni menggeser lubang big end (pin kruk as) agak keluar, bisa juga cukup mengganti pen stroke pakai yang model offset atau sering disebut pen stroker. Atau mengaplikasi kruk as yang stroke-nya sudah naik.
Seperti bikinan lokal yang ada di gerai JP Racing. “Itu hasil modifikasi pakai kruk as motor lain yang diameter bandulnya lebih gede dari standar Mio. Diameter bandul mencapai 112 mm dan pakai setang seher K125,” bilang Coki, sapaan akrab Jessi sembari menyebutkan angka Rp 3 juta untuk part tersebut. Oooo..pantez!
Ada juga, lanjut Coki, buatan Taiwan dengan panjang stroke 76 dan 78 mm. Diameter bandulnya cuma 108 mm. “Kalau yang ini (made in Taiwan), gak ada las-lasan kayak yang buatan lokal tadi. Mirip kruk as standar, tapi diameter bandulnya gede. Khusus dirancang untuk Mio/Nouvo penganut big bore,” terangnya. Banderolnya sama, yaitu Rp 3 Juta.
Atau kalau mau lirik produk custom dari Jepang, bisa sambangi gerai MC Racing di Jl. Kebon Jeruk IX, Kota, Jakbar. “Panjang stroke mulai 7 mm, 8 mm sampai 9 mm. Tinggal pasang dan sudah dijamin presisi,” beber Marcel, punggawa MC Racing. Banderolnya mulai Rp 2,5 – 3,5 juta.
Namun syaratnya bila mengaplikasi kruk as stroke-up seperti ini, ruang kruk as di crank-case mesti diperbesar lantaran diameter bandul kruk as lebih gede dari standar bawaan pabrik. Atau kalau enggan repot, bisa tebus crank-case big bore jadi yang ruang kruk asnya sudah digedein. Banderolnya sekitar Rp 1.750.000.
“Selain itu paking blok silinder bawah mesti pakai yang tebal,” tambah Marcel. Boleh custom sendiri di tukang bubut pakai pelat aluminium, atau beli jadi. Harganya berkisar Rp 75 – 250 ribu tergantung tebalnya. Mulai yang 3 mm, 5 mm, 6 mm, 13 mm hingga 35 mm pun ada.
Paling sering ditemui pembesaran kapasitas segede itu di Yamaha Mio. Skutik berlambang Garputala ini kapasitas mesin standarnya kan cuma 115 cc. Tapi bisa dibig-bore hingga 300 cc, bahkan sampai 350 cc. Weleh..weleh..!
Nah, guna mendapatkan kapasitas mesin sebesar itu tentu tak cukup hanya mengganti piston berdiameter gede. “Stroke-nya juga mesti naik banyak,” bilang Jessi Ligasiswanto, bos speed shop JP Racing yang beralamat di Jln. Cendrawasih No.6 E-F, Sawah Lama, Ciputat, Tangerang.
Pemanjangan langkah piston tersebut bisa dilakukan pakai 3 cara. Yakni menggeser lubang big end (pin kruk as) agak keluar, bisa juga cukup mengganti pen stroke pakai yang model offset atau sering disebut pen stroker. Atau mengaplikasi kruk as yang stroke-nya sudah naik.
Kalau enggan coak ruang kruk as di crank case bawaan mptor, bisa tebus crank case big bore custom jadi
Part yang disebut terakhir untuk Mio/Nouvo belakangan sudah mulai banyak di pasaran. Enggak tanggung-tanggung lo, ada yang stroke-upnya hingga 82 mm. Padahal stroke standar Mio cuma 57,9 mm. Artinya pemanjangan langkah pistonnya sampai 24,1 mm. Weekks...kok bisa? Seperti bikinan lokal yang ada di gerai JP Racing. “Itu hasil modifikasi pakai kruk as motor lain yang diameter bandulnya lebih gede dari standar Mio. Diameter bandul mencapai 112 mm dan pakai setang seher K125,” bilang Coki, sapaan akrab Jessi sembari menyebutkan angka Rp 3 juta untuk part tersebut. Oooo..pantez!
Ada juga, lanjut Coki, buatan Taiwan dengan panjang stroke 76 dan 78 mm. Diameter bandulnya cuma 108 mm. “Kalau yang ini (made in Taiwan), gak ada las-lasan kayak yang buatan lokal tadi. Mirip kruk as standar, tapi diameter bandulnya gede. Khusus dirancang untuk Mio/Nouvo penganut big bore,” terangnya. Banderolnya sama, yaitu Rp 3 Juta.
Atau kalau mau lirik produk custom dari Jepang, bisa sambangi gerai MC Racing di Jl. Kebon Jeruk IX, Kota, Jakbar. “Panjang stroke mulai 7 mm, 8 mm sampai 9 mm. Tinggal pasang dan sudah dijamin presisi,” beber Marcel, punggawa MC Racing. Banderolnya mulai Rp 2,5 – 3,5 juta.
Namun syaratnya bila mengaplikasi kruk as stroke-up seperti ini, ruang kruk as di crank-case mesti diperbesar lantaran diameter bandul kruk as lebih gede dari standar bawaan pabrik. Atau kalau enggan repot, bisa tebus crank-case big bore jadi yang ruang kruk asnya sudah digedein. Banderolnya sekitar Rp 1.750.000.
“Selain itu paking blok silinder bawah mesti pakai yang tebal,” tambah Marcel. Boleh custom sendiri di tukang bubut pakai pelat aluminium, atau beli jadi. Harganya berkisar Rp 75 – 250 ribu tergantung tebalnya. Mulai yang 3 mm, 5 mm, 6 mm, 13 mm hingga 35 mm pun ada.
Paket Bore Up Yamaha Jupiter MX 135, Buat Harian Cukup 150 cc
OTOMOTIFNET - Meski kapasitas mesin Yamaha Jupiter MX 135 sudah cukup besar (135 cc), tapi banyak pemiliknya yang ingin bore-up. Alasannya, “Biar tarikan bawah gak berat dan lebih gigit. Sebab tarikan awal itu penting buat unjuk gigi,” kata Heryanto warga Tomang, Jakbar, salah satu pembesut ‘motor Komeng’ ini.
Nah, untuk mengatasi problem seperti di atas, OTOMOTIF pun lantas cari solusi. Akhirnya, berhasil mendata beberapa bengkel racing yang menawarkan paket mengatrol tenaga bebek super ini. Berikut ini, beberapa bagian penting yang mesti diubah.
Piston
Seperti biasa diganti yang diameternya lebih besar. Pilihannya, ada seher Suzuki Thunder 125, Honda Tiger, Yamaha V-Ixion dan Yamaha Scorpio Z. “Sebenarnya mem-bore-up pakai piston Thunder 125 sudah bisa melonjakkan kapasitas mesin jadi 150 cc, dan itu pas untuk pemakaian harian. Lebih dari itu pasti kurang enak dan getaran mesin terasa sekali. Kecuali buat balap, ya,” kata Sarjana bos bengkel Sweet Martabak Racing (SMR), di Jl. Joglo Raya No.165, Kembangan, Jakbar.
Nah, untuk mengatasi problem seperti di atas, OTOMOTIF pun lantas cari solusi. Akhirnya, berhasil mendata beberapa bengkel racing yang menawarkan paket mengatrol tenaga bebek super ini. Berikut ini, beberapa bagian penting yang mesti diubah.
Piston
Seperti biasa diganti yang diameternya lebih besar. Pilihannya, ada seher Suzuki Thunder 125, Honda Tiger, Yamaha V-Ixion dan Yamaha Scorpio Z. “Sebenarnya mem-bore-up pakai piston Thunder 125 sudah bisa melonjakkan kapasitas mesin jadi 150 cc, dan itu pas untuk pemakaian harian. Lebih dari itu pasti kurang enak dan getaran mesin terasa sekali. Kecuali buat balap, ya,” kata Sarjana bos bengkel Sweet Martabak Racing (SMR), di Jl. Joglo Raya No.165, Kembangan, Jakbar.
Gbr 1 |
Gbr 2 |
Gbr 3 |
“Tapi ada juga yang memasang satu set blok Yamaha V-Ixion berikut seher, ring, pen dan pakingnya. Hasilnya sama kayak pakai seher Thunder. Bedanya, gak perlu mengubah mesin, jadi kalau mau bikin standar lagi lebih gampang,” jelas Herry C pemilik gerai IMMAX Speedshop (gbr.1).
Koil dan CDI Racing
Ikut dimaksimalkan lewat pengaplikasian produk aftermarket. “Ini demi meningkatkan lompatan bunga api di busi. Agar kerja mesin lebih ringan dan optimal,” urai Sigit dari bengkel Anchezher Junior, di Jl. Panjang Kelapa Dua No.31, Jakbar.
CDI pun banyak ragamnya, bisa pilih Rextor, BRT, FCCI dari Thailand, bahkan ada yang memakai CDI punya Yamaha Mio (standar). Untuk koil, tipe favorit dari para jago kilik ini tetap memilih koil Yamaha YZ 125 (gbr.2). “Api busi lebih besar, mengimbangi pembakaran di ruang mesin yang besar dan efeknya, tarikan juga lebih gahar, tuh!” timpal Herry yang buka gerai kawasan Jl. Jeruk Bali 3 No.8, Kepa Duri, Jakbar.
Karburator dan Knalpot
Peranti pengabut juga penting mengadopsi tipe racing. “Umumnya karbu yang dipilih tetap pada PE berventuri 28 mm. Selain relatif lebih terjangkau, entakan tenaga yang dihasilkan juga lumayan galak,” ungkap Sigit yang besutannya sudah pakai karbu itu (gbr.3).
Sedang knalpot sebagai pendukung kinerja dapur pacu lebih mantap turut mengandalkan model kompetisi. “Kalo tipe racing, pada bagian dalam silencer-nya sengaja didesain tidak terlalu banyak sekat atau saringan, sehingga gas buang pun keluar lebih plong,” imbuh Kancil panggilan akrab Sarjana.
Paket ala SMR (Telp.021-9206-9877)
150 cc (Rp 1,6 juta): Piston set Suzuki Thunder 125, CDI Yamaha Mio dan knalpot racing custom, Noken as custom, porting-polish + setting
300 cc (Rp 10,2 juta): Piston set Yamaha Scorpio, koil YZ125, Klep in/out Thunder 125, gigi rasio custom, CDI Rextor program, knalpot racing, karbu PE 28, Noken as racing, stroke-up, porting-Polish + setting
Paket ala Anchezher Junior (Telp.021-94215116)
150 cc (Rp 3 juta): Piston set Thunder 125, noken as CLD-Kawahara, CDI BRT dualband, knalpot SKR, karbu PE 28, porting-polish + setting
250 cc (Rp 5 juta): Piston set Honda Tiger, magnet papas, Stroke-up, klep in/out custom, balancer setting, CDI BRT, gigi rasio, karbu PE 28, noken as custom, koil YZ125, knalpot racing, porting-polish + setting
Paket ala Immax Speedshop (Telp.0856-1838813/021-98602680)
150 cc (Rp 3,9 juta): Blok mesin, piston set Yamaha V-Ixion, CDI FCCI (harian), Karbu PE 28, noken as FCCI racing 280, knalpot DBS aluminium
185 cc (Rp 4,7 juta): Piston set 63 mm Shark, CDI FCCI (harian), Karbu PE 28, noken as FCCI racing 330, knalpot DBS stainless
Bikin Ngacir Motor Sport Ala Anak Sekolah, Budget Di Bawah Rp 1 Juta !!!
OTOMOTIFNET - Gak jarang ada orang tua yang tak sayang membelikan anak motor jenis sport buat transportasi ke sekolah. Padahal tahu sendiri, motor jenis ini harganya lumayan mahal. Itu juga umumnya atas permintaan si anak lantaran motor jenis ini dianggap lebih ‘laki' banget dan larinya lebih sip ketimbang bebek.
"Minimal meski dibeliin jenis bebek, tapi yang berkarakter sport kayak Yamaha Jupiter MX, Suzuki Satria FU atau Kawasaki Athlete," tukas Firman, siswa kelas 3 salah satu SMU Swasta di Jakarta Selatan.
Namun walau sudah mengusung performa mantap, tetap saja banyak pelajar yang ingin lari motornya lebih ngacir dari standar pabrik. Pasti alasannya satu, "Biar gak dikatain cupu sama teman-teman," bilang Firman. Makanya wajar kalau bengkel-bengkel racing kerap didatangi mereka untuk meng-upgrade performa motor kesayangannya.
"Minimal meski dibeliin jenis bebek, tapi yang berkarakter sport kayak Yamaha Jupiter MX, Suzuki Satria FU atau Kawasaki Athlete," tukas Firman, siswa kelas 3 salah satu SMU Swasta di Jakarta Selatan.
Namun walau sudah mengusung performa mantap, tetap saja banyak pelajar yang ingin lari motornya lebih ngacir dari standar pabrik. Pasti alasannya satu, "Biar gak dikatain cupu sama teman-teman," bilang Firman. Makanya wajar kalau bengkel-bengkel racing kerap didatangi mereka untuk meng-upgrade performa motor kesayangannya.
Intake | Karburator |
Noken-as | Kampas kopling |
"Modif kenceng yang mereka minta umumnya gak mahal-mahal. Rata-rata budget-nya di bawah Rp 1 jutaan. Maklum duit mereka kan terbatas. Itu pun kadang mereka ngumpet-ngumpet dari ortunya. Karena takut dilarang," beber Rusli ‘Kuda', mekanik Ahau Motor di Jl. Akses UI, Kelapa Dua, Depok, Jabar yang khusus menangani upgrade performa mesin.
Ubahan yang dilakukan beragam. Mulai dari sekadar ganti part PnP high performance kayak knalpot free flow, CDI, kampas kopling, per kopling, kem berdurasi tinggi, karburator hingga porting-polish. Nah, pasti Anda pengin tau apa saja sih part PnP yang bisa ditebus dengan budget Rp 500 - Rp 1 juta?
Untuk saluran gas buang freeflow, buat bebek berkarakter sport yang tadi disebutkan maupun jenis sport tulen kayak Suzuki Thunder 125, Honda Mega Pro, Tiger, Yamaha V-Ixion, Scorpio, Bajaj XCD 125, Pulsar series dan sebagainya, memang ada yang harganya Rp 250 ribu hingga Rp 2 jutaan.
Tapi kalau ingin dikombinasi CDI aftermarket unlimiter, sebaiknya knalpot cukup pilih paling mahal sekitar Rp 500 ribu saja. Agar sisa duit masih bisa buat beli CDI racing kayak produk BRT Hyperband atau Neo Hyperband, Varro, Rextor Adjustable, XP Andrion dan sebagainya (mulai Rp 250 - 610 ribu).
Atau bisa juga diakali dengan cukup membobok knalpot standar. Biayanya dijamin lebih terjangkau, namun hasilnya lumayan dalam mendongkrak tenaga maupun torsi. "Untuk MX 135, Satria FU dan motor jenis sport biaya bobok knalpot sekitar Rp 100 - 150 ribuan," bilang Edi Karyadi, juragan knalpot merek 3D1 di Jl Raya Sawangan, Depok.
Sisa duit kalau menerapkan cara ini, kan masih bisa buat nebus yang lain. Misalnya ganti karburator Keihin PE 24 atau 28 yang di pasaran sekitar Rp 450 - 550 ribu. Plus jet kit-nya (main jet/pilot jet) tinggal nambah Rp 50 - 100 ribu.
Lalu untuk mengoptimalkan kerja penerus dayanya, bisa tebus kampas kopling racing kayak merek Daytona, BRT dan sebagainya yang di pasaran dibanderol sekitar Rp 95 - 160 ribu/set (ada buat Tiger, Scorpio, V-Ixion, Satria FU). Bila perlu sekalian sama per kopling yang agak keras biar cengkraman kampas kopling lebih sip. Di pasaran ada produk Inspiro, BRT, CLD dan lain-lain yang dilego sekitar Rp 85 - 115 ribu/set.
Bisa juga kombinasi yang diterapkan seperti ini, terutama buat pemilik Mega Pro atau Tiger. Yakni bobok knalpot (Rp 150 ribu) + ganti kem racing (merek WRD Rp 350 ribu), CDI racing (BRT Hyperband 400 ribu) + jetting karbu (Rp 50 - 100 ribu).
Sementara bagi yang ingin melakukan porting-polish, rata-rata untuk motor berkarakter atau berjenis sport biayanya lebih mahal Rp 100 - 150 ribu dibanding bebek biasa. "Plus setting di kami untuk jenis sport sekitar Rp 550 ribu. Itu di luar harga paking," tukas Eka, mekanik general workshop AHRS di Jl. Tole Iskandar, Depok Timur.
Ubahan yang dilakukan beragam. Mulai dari sekadar ganti part PnP high performance kayak knalpot free flow, CDI, kampas kopling, per kopling, kem berdurasi tinggi, karburator hingga porting-polish. Nah, pasti Anda pengin tau apa saja sih part PnP yang bisa ditebus dengan budget Rp 500 - Rp 1 juta?
Untuk saluran gas buang freeflow, buat bebek berkarakter sport yang tadi disebutkan maupun jenis sport tulen kayak Suzuki Thunder 125, Honda Mega Pro, Tiger, Yamaha V-Ixion, Scorpio, Bajaj XCD 125, Pulsar series dan sebagainya, memang ada yang harganya Rp 250 ribu hingga Rp 2 jutaan.
Tapi kalau ingin dikombinasi CDI aftermarket unlimiter, sebaiknya knalpot cukup pilih paling mahal sekitar Rp 500 ribu saja. Agar sisa duit masih bisa buat beli CDI racing kayak produk BRT Hyperband atau Neo Hyperband, Varro, Rextor Adjustable, XP Andrion dan sebagainya (mulai Rp 250 - 610 ribu).
Atau bisa juga diakali dengan cukup membobok knalpot standar. Biayanya dijamin lebih terjangkau, namun hasilnya lumayan dalam mendongkrak tenaga maupun torsi. "Untuk MX 135, Satria FU dan motor jenis sport biaya bobok knalpot sekitar Rp 100 - 150 ribuan," bilang Edi Karyadi, juragan knalpot merek 3D1 di Jl Raya Sawangan, Depok.
Sisa duit kalau menerapkan cara ini, kan masih bisa buat nebus yang lain. Misalnya ganti karburator Keihin PE 24 atau 28 yang di pasaran sekitar Rp 450 - 550 ribu. Plus jet kit-nya (main jet/pilot jet) tinggal nambah Rp 50 - 100 ribu.
Lalu untuk mengoptimalkan kerja penerus dayanya, bisa tebus kampas kopling racing kayak merek Daytona, BRT dan sebagainya yang di pasaran dibanderol sekitar Rp 95 - 160 ribu/set (ada buat Tiger, Scorpio, V-Ixion, Satria FU). Bila perlu sekalian sama per kopling yang agak keras biar cengkraman kampas kopling lebih sip. Di pasaran ada produk Inspiro, BRT, CLD dan lain-lain yang dilego sekitar Rp 85 - 115 ribu/set.
Bisa juga kombinasi yang diterapkan seperti ini, terutama buat pemilik Mega Pro atau Tiger. Yakni bobok knalpot (Rp 150 ribu) + ganti kem racing (merek WRD Rp 350 ribu), CDI racing (BRT Hyperband 400 ribu) + jetting karbu (Rp 50 - 100 ribu).
Sementara bagi yang ingin melakukan porting-polish, rata-rata untuk motor berkarakter atau berjenis sport biayanya lebih mahal Rp 100 - 150 ribu dibanding bebek biasa. "Plus setting di kami untuk jenis sport sekitar Rp 550 ribu. Itu di luar harga paking," tukas Eka, mekanik general workshop AHRS di Jl. Tole Iskandar, Depok Timur.
Langganan:
Postingan (Atom)